Rabu, 25 September 2013
Kamera-Kamera pada Kendaraan di MotoGp dan Formula One
Selasa, 17 September 2013
Persamaan F1 dengan MotoGP
Motogp dan Formula One adalah balapan otomotif paling bergengsi di seluruh dunia. Motogp balap motor roda dua, f1 balap mobil roda empat. Biarpun berbeda tapi masih punya persamaan. Motogp sudah ada sejak tahun 1949. Sementara F1 mulai tahun 1950.
Berikut beberapa persamaan yang ada antara F1 dan Motogp:
Biaya selangit
Berikut beberapa persamaan yang ada antara F1 dan Motogp:
Biaya selangit
Biaya yang dibutuhkan untuk berkompetisi di dua ajang tersebut amat besar, selangit. Mobil dan motor yang dipakai bukan yang produksi untuk massal atau tidak untuk dijual di pasaran. Tetapi memang dirancang dan dibuat khusus untuk balapan dengan berbagai macam komponen yang tidak biasa dan mahal. Penyelenggaraannya pun diberbagai belahan dunia. Ini juga menambah mahal tentunya, untuk transportasi membawa logistik dan keperluan tim dari negara satu ke negara lainnya yang tentunya tidak murah. Tapi tentunya F1 lebih mahal dari Motogp. Mulai dari jutaan dollar hingga milliaran dollar AS se-musim.
Rabu, 04 September 2013
Kecamatan Wates Ada Dimana?
Wates dalam bahasa Jawa berarti "batas". Banyak nama tempat atau daerah yang menggunakan nama ini. Bahkan tidak cuma di Jawa.
Nama Kecamatan: Wates
- Wates adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Kulon Progo, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia. Di sinilah ibukota Kabupaten Kulon Progo.
- Wates adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur, Indonesia.
- Wates adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Blitar, Provinsi Jawa Timur, Indonesia.
Untuk nama desa atau kelurahan tentunya lebih banyak.
Nama Desa/Kelurahan/Pekon: Wates
- Wates adalah desa di kecamatan Wates, Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia
- Wates adalah desa yang berada di kecamatan Wates, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, Indonesia.
- Wates adalah sebuah nama desa di wilayah Kecamatan Panekanl, Kabupaten Magetan, Provinsi Jawa Timur.
- Wates adalah desa di kecamatan Undaan, Kudus, Jawa Tengah, Indonesia.
- Wates adalah desa terkecil di kecamatan Pagu, kabupaten Kediri, Jawa Timur, Indonesia.
- Wates adalah desa di kecamatan Dukun, Magelang, Jawa Tengah, Indonesia.
- Wates adalah salah satu desa di wilayah kecamatan Lekok, kabupaten Pasuruan, Provinsi Jawa Timur, Indonesia.
- Wates adalah desa di kecamatan Wonotunggal, Batang, Jawa Tengah, Indonesia.
- Wates adalah desa di kecamatan Simo, Boyolali, Jawa Tengah, Indonesia.
- Wates adalah desa di kecamatan Kedungjati, Grobogan, Jawa Tengah, Indonesia.
- Wates adalah sebuah desa yang berada di wilayah Kecamatan Sumbergempol, Kabupaten Tulungagung, Provinsi Jawa Timur, Indonesia.
- Wates adalah desa yang berada di kecamatan Campurdarat, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
- Wates adalah desa di kecamatan Tanjunganom, Nganjuk, Jawa Timur, Indonesia.
- Wates adalah sebuah kelurahan di wilayah Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang, Provinsi Jawa Tengah.
- Wates adalah sebuah kelurahan di kecamatan Magersari, Kota Mojokerto, Jawa Timur, Indonesia.
- Wates adalah salah satu kelurahan di kecamatan Bandung Kidul, Kota Bandung, Jawa Barat, Indonesia.
- Wates adalah kelurahan di kecamatan Magelang Utara, Kota Magelang, Jawa Tengah, Indonesia.
- Wates adalah desa di kecamatan Wonoboyo, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, Indonesia.
- Wates adalah sebuah desa di wilayah Kecamatan Jenangan, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur.
- Wates adalah pekon yang berada di kecamatan Gading Rejo, Kabupaten Pringsewu, Lampung, Indonesia.
- Watas adalah sebuah pekon di kecamatan Balik Bukit, Kabupaten Lampung Barat, Lampung, Indonesia.
Mestinya masih banyak lagi tempat yang menggunakan nama Wates, seperti nama pedukuhan atau lainnya yang belum disebutkan di atas, mengingat wates memiliki arti batas. Tapi memang sebuah nama yang sama digunakan untuk menamai banyak tempat yang berbeda bukan cuma se Indonesia tapi di seluruh dunia banyak nama tempat yang sama padahal berbeda negara.
Jadi, kalau menyebutkan nama suatu tempat atau alamat yang lengkap agar tidak salah dengan tempat lain yang punya nama sama.
Jadi, kalau menyebutkan nama suatu tempat atau alamat yang lengkap agar tidak salah dengan tempat lain yang punya nama sama.
sumber: id.wikipedia.org
Sabtu, 31 Agustus 2013
Hijriyah Akan Mendahului Masehi
Pada suatu saat nanti tahun Hijriyah akan mendahului tahun Masehi. Ini berdasarkan fakta bahwa satu tahun dalam Kalender Hijriyah rata-rata lebih cepat atau lebih sedikit 11 hari dari kalender Masehi. Jika kita lihat sekarang ini tahun kalender hijriyah memang tertinggal jauh dari tahun masehi. Sekarang 1434 H sama dengan 2013 M. Ada selisih sekitar 579 tahun. Namun perlahan angka tahun Hijriyah selisihnya akan terus mendekati Masehi.
Pada tahun tertentu di masa yang akan datang Masehi dan Hijriyah akan menunjukkan angka yang sama, kemudian akan terjadi kejar mengejar, setelah kerjar-mengejar, akhirnya tahun Hijriyah bisa menyusul tahun Masehi, sehingga angka tahun Hijriyah akan lebih besar dari tahun Masehi. Kemudian angka tahun Hijriyah akan semakin melebarkan selisihnya dan semakin jauh dari tahun Masehi. Tapi hal itu akan akan membutuhkan waktu yang sangat lama.
Kita sudah bisa lihat bahwa selisih antara tahun Hijriyah dan Masehi semakin kecil, pada awal ditetapkannya 1 hijriyah, ketika itu selisihnya lebih dari 600 tahun terhadap Masehi, tepatnya 622 Masehi waktu itu dimulai tahun 1 Hijriyah. Tapi sekarang selisihnya tinggal 580-an. Itu berarti sudah berkurang sekitar 40 tahun dalam kurun waktu sekitar 1400 tahun Masehi.
Setelah coba-coba cari di http://rukyatulhilal.org/konversi/
Hal itu terjadi di tahun 20 ribu-an.
Diketahui bahwa untuk pertama kalinya angka tahun Hijriyah dan Masehi sama yaitu pada akhir Desember 20841 M atau awal Muharram 20841 H.
Di tahun 21 ribu-an baik Hijriyah ataupun Masehi, Hijriyah sudah berada di depan Masehi beberapa tahun.
Coba-coba menghitung:
versi 1
1 tahun Masehi = 365,25 hari
1 tahun Hijriyah = 354,36 hari
Selisih hari = 365,25 - 354,36 = 10,89 hari
Pada bulan Januari 2009 = Muharram 1430
Selisihnya = 2009 - 1430 = 579 tahun
Perhitungan:
[(579 x 365,25) / 10,89] + 2009 = 21430 ......(ternyata sangat berbeda, selisih lebih dari 500 tahun)
versi 1.1
1 tahun Masehi = 365,25 hari
1 tahun Hijriyah = 354 hari
Selisih = 11,25 hari
Pada bulan Januari 2009 = Muharram 1430
Selisihnya = 2009 - 1430 = 579 tahun
Perhitunga:
[(579 x 365,25) / 11,25] + 2009 = 20807,2 ......(masih berbeda, tetapi selisihnya lebih kecil)
versi 2
Jumlah rata-rata hari tahun masehi berarti 365,25 Hari
Jumlah hari pada tahun hijriyah 354 Hari
Selisih jumlah hari : 11,25 Hari
Jadi tahun Hijriah akan mengejar 1 tahun setelah 365,25/11,25 = 32,46666 tahun.
Selisih Tahun hijriah dengan Masehi saat ini 2011 - 1432 = 579 tahun
Jadi tahun hijriah akan mengejar Masehi setelah 579 x 32,4666 = 18798.2 tahun
Jadi tahun masehi akan sama dengan tahun hijriah pada tahun 18798.2 + 2011 = 20809,2 . Masehi
atau awal tahun 20.810 masehi.
"Sudah mendekati walau belum pas, selisih beberapa puluh tahun"
versi 3
Penetapan 1 Hijriyah adalah tahun saat Nabi Muhammad saw hijrah ke Madinah. Penetapan 1 Hijriyah bertepatan pada 16 Juli 622 M, sedangkan nabi hijrah ke Madinah pada bulan September 622 M. Berarti pada awalnya selisih Hijriyah dan Measehi adalah 622 tahun lebih 6 bulan atau setengah tahun.
622,5 x 365,25 / 10,89 = 20.878,6
20.878,6 + 622 = 21.500,6
hasilnya akan jauh berbeda jika selisih hari menggunakan 11,25 (365,25-354) yaitu:
622,5 x 365,25 / 11,25 = 20.210,5
20.210,5 + 622 = 20.832,5
versi 4
selisih awal = 622 tahun
selisih 2009 = 579 tahun
berarti selisihnya sudah berkurang 43 tahun selama 622-2009 atau 1387 tahun.
berarti tiap 1387 tahun selisihnya berkurang 43 tahun
579/43 = 13,465
1387 x 13,465 = 18.675,9
18.675,9 + 2009 = 20.684,9
versi 5
menggunakan persamaan garis: lebih lanjut
Tampak hasil akhirnya berbeda-beda
Kita sudah bisa lihat bahwa selisih antara tahun Hijriyah dan Masehi semakin kecil, pada awal ditetapkannya 1 hijriyah, ketika itu selisihnya lebih dari 600 tahun terhadap Masehi, tepatnya 622 Masehi waktu itu dimulai tahun 1 Hijriyah. Tapi sekarang selisihnya tinggal 580-an. Itu berarti sudah berkurang sekitar 40 tahun dalam kurun waktu sekitar 1400 tahun Masehi.
Setelah coba-coba cari di http://rukyatulhilal.org/konversi/
Hal itu terjadi di tahun 20 ribu-an.
Diketahui bahwa untuk pertama kalinya angka tahun Hijriyah dan Masehi sama yaitu pada akhir Desember 20841 M atau awal Muharram 20841 H.
Di tahun 21 ribu-an baik Hijriyah ataupun Masehi, Hijriyah sudah berada di depan Masehi beberapa tahun.
Coba-coba menghitung:
versi 1
1 tahun Masehi = 365,25 hari
1 tahun Hijriyah = 354,36 hari
Selisih hari = 365,25 - 354,36 = 10,89 hari
Pada bulan Januari 2009 = Muharram 1430
Selisihnya = 2009 - 1430 = 579 tahun
Perhitungan:
[(579 x 365,25) / 10,89] + 2009 = 21430 ......(ternyata sangat berbeda, selisih lebih dari 500 tahun)
versi 1.1
1 tahun Masehi = 365,25 hari
1 tahun Hijriyah = 354 hari
Selisih = 11,25 hari
Pada bulan Januari 2009 = Muharram 1430
Selisihnya = 2009 - 1430 = 579 tahun
Perhitunga:
[(579 x 365,25) / 11,25] + 2009 = 20807,2 ......(masih berbeda, tetapi selisihnya lebih kecil)
versi 2
Jumlah rata-rata hari tahun masehi berarti 365,25 Hari
Jumlah hari pada tahun hijriyah 354 Hari
Selisih jumlah hari : 11,25 Hari
Jadi tahun Hijriah akan mengejar 1 tahun setelah 365,25/11,25 = 32,46666 tahun.
Selisih Tahun hijriah dengan Masehi saat ini 2011 - 1432 = 579 tahun
Jadi tahun hijriah akan mengejar Masehi setelah 579 x 32,4666 = 18798.2 tahun
Jadi tahun masehi akan sama dengan tahun hijriah pada tahun 18798.2 + 2011 = 20809,2 . Masehi
atau awal tahun 20.810 masehi.
"Sudah mendekati walau belum pas, selisih beberapa puluh tahun"
versi 3
Penetapan 1 Hijriyah adalah tahun saat Nabi Muhammad saw hijrah ke Madinah. Penetapan 1 Hijriyah bertepatan pada 16 Juli 622 M, sedangkan nabi hijrah ke Madinah pada bulan September 622 M. Berarti pada awalnya selisih Hijriyah dan Measehi adalah 622 tahun lebih 6 bulan atau setengah tahun.
622,5 x 365,25 / 10,89 = 20.878,6
20.878,6 + 622 = 21.500,6
hasilnya akan jauh berbeda jika selisih hari menggunakan 11,25 (365,25-354) yaitu:
622,5 x 365,25 / 11,25 = 20.210,5
20.210,5 + 622 = 20.832,5
versi 4
selisih awal = 622 tahun
selisih 2009 = 579 tahun
berarti selisihnya sudah berkurang 43 tahun selama 622-2009 atau 1387 tahun.
berarti tiap 1387 tahun selisihnya berkurang 43 tahun
579/43 = 13,465
1387 x 13,465 = 18.675,9
18.675,9 + 2009 = 20.684,9
versi 5
menggunakan persamaan garis: lebih lanjut
Tampak hasil akhirnya berbeda-beda
Rabu, 07 Agustus 2013
Tanda akhir zaman: Islam Datang dan Kembali Dalam Keadaan Asing
Di akhir zaman, seperti zaman kita ini, sebelum datangnya hari kiamat
akan ada hari-hari yang di dalamnya turun dan tersebar kejahilan yang
disebabkan oleh malasnya manusia dan enggannya mereka dari menuntut ilmu
agama, yaitu ilmu tentang Al-Qur’an dan Sunnah. Nabi-shollallahu alaihi
wasallam- bersabda,
إِنَّ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ لَأَيَّامًا يَنْزِلُ فِيْهَا الْجَهْلُ وَيُرْفَعُ الْعِلْمُ
“Sesungguhnya di depan hari kiamat ada hari-hari yang kejahilan diturunkan di dalamnya, dan ilmu diangkat”. (HR. Al-Bukhoriy : 6654)
Banyak diantara sunnah Nabi Shollallahu ‘alaihi wasallam yang
dilalaikan orang pada hari ini sehingga terkadang menjadi sesuatu yang
mahjur (ditinggalkan).
Inilah yang pernah diisyaratkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau bersabda dalam sebuah hadits,
بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيْبًا وَسَيَعُوْدُ كَمَا بَدَأَ غَرِيْبًا فَطُوْبَى لِلْغُرَبَاءِ
“Islam muncul dalam keadaan asing, dan akan kembali (asing),
sebagaimana ia muncul dalam keadaan asing. Maka beruntunglah orang-orang
asing“. [HR. Muslim dalam Kitab Al-Iman (232)]
Keterangan Islam mulai tersebar di Mekkah dalam keadaan sangat asing.
Sangat sedikit penganut dan pendukungnya kalau dibandingkan dengan
penentangnya. Kemudian setelah itu Islam tersebar ke seluruh pelosok
dunia sehingga dianut oleh dua pertiga penduduk dunia. Kemudian Islam
kembali asing dan dirasa ganjil dari pandangan dunia, bahkan dari
pandangan orang Islam sendiri. Sebagian dari orang Islam merasa ganjil
dan aneh bila melihat orang Islam yang iltizam (komitmen) dengan Islam
dan mengamalkan tuntutan Islam yang sebenamya. Seorang yang iltizam
dengan Islam dipandang dingin oleh masyarakat dan sukar untuk diterima
sebagai individu yang sehat. Contohnya, kalau ada sesuatu program
kemasyarakatan kemudian masuk waktu shalat, tiba-tiba ada orang yang
minta izin untuk menunaikan shalat, maka tindakan itu dianggap tidak
sopan dan kurang wajar. Sedangkan orang yang tidak shalat sambil
bersenda- gurau ketika orang lain shalat tidak dianggap sebagai
perbuatan yang salah dan terkutuk. Begitulah seterusnya nasib Islam di
akhir zaman. Ia akan terasing dan tersisih dari masyarakat, bahkan
tersisih dari pandangan orang Islam sendiri yang mengaku sebagai Umat
Islam dan marah jika dikatakan dia bukan orang Islam.
= = = = = = =
Sesungguhnya keajaiban manusia di akhir zaman ini sangat banyak dan
nyata sekali. Terkadang kita kurang jeli memperhatikannya sehingga
terlihat dunia ini berjalan baik-baik saja. Namun, bila kita cermati
dengan baik, kita akan menemukan segudang keajaiban dan keanehan dalam
kehidupan manusia akhir zaman dan hampir dalam semua lini kehidupan.
Keajaiban yang kita maksudkan di sini bukan terkait dengan persitiwa
alam seperti gempa bumi, tsunami dan sebagainya, atau kejadian yang
aneh-aneh lainnya, melainkan pola fikir manusia yang paradoks yang
berkembang biak di akhir zaman ini.
Berikut ini adalah sebagian kecil dari cara berfikir paradoks yang berkembang akhir-akhir ini dalam masyarakat luas. Lebih ajaib lagi, model berfikir paradoks tersebut malah dimiliki pula oleh sebagian umat Islam baik dari kalangan awam, terpelajar, politisi, pengusaha dan bahkan sebagian Ustadz, Kyai dan para tokoh mereka. Kaum muslimin pun banyak yang “membebek” dan mengikuti pola pikir mereka yang diantaranya adalah sebagai berikut :
Berikut ini adalah sebagian kecil dari cara berfikir paradoks yang berkembang akhir-akhir ini dalam masyarakat luas. Lebih ajaib lagi, model berfikir paradoks tersebut malah dimiliki pula oleh sebagian umat Islam baik dari kalangan awam, terpelajar, politisi, pengusaha dan bahkan sebagian Ustadz, Kyai dan para tokoh mereka. Kaum muslimin pun banyak yang “membebek” dan mengikuti pola pikir mereka yang diantaranya adalah sebagai berikut :
MEDIA
Apa saja yang dituliskan dalam Koran dan Majalah, dengan mudah orang mempercayainya kendati itu hanya berupa tulisan manusia biasa yang belum teruji kebenarannya dan dibuat oleh penulis yang dipertanyakan pemahaman agamanya. Membaca dan mempelajarinya dianggap sebagai lambang kemajuan dan menambah “wawasan”.
Akan tetapi, apa yang tercantum dalam Al-Qur’an dan Hadits belum tentu langsung dipercayai dan diyakini kebenarannya, kendati mengaku sebagai Muslim. Padahal kebenaran Al-Qur’an sudah teruji sepanjang masa dari berbagai sisi ilmu pengetahuan. Akhir-akhir ini muncul anggapan bahwa memahami Al-Qur’an dan Hadits jangan letter lecht dan tidak bisa diterima “mentah-mentah” namun harus “dibumikan dahulu” agar sesuai dengan kondisi kekinian..
“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak pula bagi perempuan yang mu’minah, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya dia telah sesat, dengan kesesatan yang nyata.” (Q.S. Al-Ahzab: 36)
Apa saja yang dituliskan dalam Koran dan Majalah, dengan mudah orang mempercayainya kendati itu hanya berupa tulisan manusia biasa yang belum teruji kebenarannya dan dibuat oleh penulis yang dipertanyakan pemahaman agamanya. Membaca dan mempelajarinya dianggap sebagai lambang kemajuan dan menambah “wawasan”.
Akan tetapi, apa yang tercantum dalam Al-Qur’an dan Hadits belum tentu langsung dipercayai dan diyakini kebenarannya, kendati mengaku sebagai Muslim. Padahal kebenaran Al-Qur’an sudah teruji sepanjang masa dari berbagai sisi ilmu pengetahuan. Akhir-akhir ini muncul anggapan bahwa memahami Al-Qur’an dan Hadits jangan letter lecht dan tidak bisa diterima “mentah-mentah” namun harus “dibumikan dahulu” agar sesuai dengan kondisi kekinian..
“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak pula bagi perempuan yang mu’minah, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya dia telah sesat, dengan kesesatan yang nyata.” (Q.S. Al-Ahzab: 36)
POLA HIDUP
Tidak sedikit manusia, termasuk yang mengaku Muslim yakin dan
bangga dengan sistem hidup ”ala amerika atau eropa” kendati sistem yang
mereka yakini dan banggakan itu sendiri menyebabkan hidup mereka kacau
dan mereka selalu menghadapai berbagai kezaliman dan ketidak adilan dari
para penguasa negeri mereka. Mereka masih saja mengklaim : inilah
sistem sosial yang paling cocok dan sesuai dengan perkembangan zaman
modern.
Namun, bila ada yang mengajak dan menyeru untuk kembali kepada hukum
Islam, maka orang akan menuduh ajakan dan seruan itu akan membawa kepada
keterbelakangan, kekerasan dan terorisme, padahal mereka tahu bahwa
Islam itu diciptakan oleh Allah Subhaanahu wa Ta’ala untuk keselamatan
dunia dan akhirat dan Allah Ta’ala mustahil keliru dan tidak mungkin
akan menzalimi hamba-Nya.
“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi”. (QS. Ali ‘Imran : 85).
“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi”. (QS. Ali ‘Imran : 85).
JENGGOT
Ketika seorang Yahudi atau pemuka agama lain memanjangkan
jenggotnya, orang akan mengatakan dia sedang menjalankan ajaran agamanya
dengan penuh ketaatan. Seorang artis atau public figure yang berjenggot
dikatakan terlihat “modis” dan “tampil beda” dengan variasi penampilan. Namun, saat seorang Muslim memelihara jenggotnya, dengan mudah orang
menuduhnya fundamentalis, “aliran garis keras” atau teroris yang selalu
harus dicurigai khususnya saat masuk ke tempat-tempat umum seperti hotel
dan sebagainya. Dengan enteng mereka mengejeknya dan mengatakan
“kambing berjalan..!!!”
Juga dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda, “Berbedalah dengan orang-orang musyrik;
potonglah kumis dan biarkanlah jenggot.” (HR. Muslim no. 625).
TOLERANSI
Bila ada orang atau kelompok yang dengan nyata-nyata merusak dan
melecehkan ajaran Islam yang sangat fundamental, seperti masalah Rabb,
Al-Qur’an dan pribadi Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam, maka
orang dengan gampang mengatakan yang demikian itu adalah kebebasan
mengeluarkan pendapat dan berekspresi dalam menafsirkan agama.
JUBAH
Jika seorang Biksu atau Pendeta memakai jubah dan pakaian
“kebesaran”nya, orang memandang bahwa merekalah orang terbaik diantara
mereka sehingga layak berpenampilan seperti itu sebagai wujud kepatuhan
terhadap agamanya yang mulia. Sayangnya, jika seorang Ikhwan memakai ghamis, dan jubah karena ingin
mencontoh suri tauladan Rosulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam dalam
hal berpakaian, tanpa rasa bersalah mereka mengatakan “…sok alim” dan
berujar “kita tidak sedang hidup di negeri Arab..” Adapun memakai Celana
dengan tidak boleh isbal (melebihi mata kaki) dikatakan : “kebanjiran…”
“Pakaian yang disukai oleh Rasulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam adalah pakaian gamis”. (Asy-Syaikh
Al-Albani menshahihkan haditsnya dalam tahqiq beliau terhadap kitab
Mukhtashar Asy-Syama`il Al-Muhammadiyah karya Imam At-Tirmizi, pada
hadits no. 46.) Dan hadits ‘Aisyah radhiyallahu’anha: “Bagian kain sarung yang terletak di bawah mata kaki berada di dalam neraka.” (HR. Ahmad, 6/59,257).
CADAR
Bila Akhwat Muslimah menutup auratnya dengan jilbab, hijab
atau cadar, maka orang lagi-lagi akan menuduh mereka terbelakang dan
tidak sesuai dengan zaman, tampil “seperti NINJA” atau “GORDEN BERJALAN”
padahal mereka yang menuduh itu katanya adalah para penganut paham
demokrasi, yang katanya setiap orang bebas menjalankan keyakinan
masing-masing.
“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak
perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin: hendaklah mereka mengulurkan
jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih
mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu..” (QS.
Al-Ahzab: 59)PEKERJAAN
Bila wanita Barat tinggal di rumah dan tidak bekerja di luar
karena menjaga, merawat rumah dan mendidik anaknya, maka orang akan
memujinya karena ia rela berkorban dan tidak bekerja di luar rumah demi
kepentingan rumah tangga dan keluarganya. Namun, bila wanita Muslimah tinggal di rumah menjaga harta suami,
merawat dan mendidik anaknya, maka orang akan menuduhnya “terjajah” dan
harus dimerdekakan dari dominasi kaum pria atau apa yang sering mereka
katakan dengan kesetaraan gender dan “emansipasi”.
“Tetaplah kalian tinggal di rumah-rumah kalian dan janganlah
kalian bertabarruj sebagaimana tabarrujnya orang-orang jahiliah yang
awal.” (Al-Ahzab: 33)PENAMPILAN
Setiap wanita Barat bebas ke kampus dan ke pasar dengan
berbagai atribut hiasan dan pakaian yang “serba minim”, ketat dan
menampakkan lekuk tubuhnya, dengan alasan itu mereka katakan adalah hak
asasi mereka dan kemerdekaan mengekpresikan diri.
Namun, bila wanita Muslimah yang ke kampus atau ke tempat kerja
dengan memakai pakaian Islaminya, maka orang akan menuduhnya “eksklusif”
dan berfikiran sempit tidak sesuai dengan peraturan dan paradigma
kampus atau tempat kerja mereka.
“Dan katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka
menahan pandangannya, dan memelihara kemaluan-nya, dan janganlah mereka
menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.”
(Q.S An-Nur: 31)PENDIDIKAN
Bila anak-anak mereka sibuk dengan berbagai macam mainan yang
mereka ciptakan, mereka akan mengatakan ini adalah pembinaan bakat,
kecerdasan dan melatih kreativitas sang anak.
Namun, bila anak Muslim dibiasakan mengikuti pendidikan praktis
agamanya atau masuk “Pondok Pesantren”, maka orang akan mengatakan bahwa
pola pendidikan seperti itu “tidak punya harapan” dan memiliki masa
depan yang suram. Padahal menuntut ilmu agama itu yang nomor satu baru kemudian ilmu umum.
“Menuntut ilmu adalah wajib atas setiap muslim.” Hadits hasan diriwayatkan oleh sejumlah shahabat. Dishohihkan oleh Al-Albâny dalam Takhrîj Musykilatul Faqr hal 80.
JIHAD
Ketika Yahudi atau Nasrani membunuh dan membantai seseorang,
atau melakukan Agresi ke negeri Islam khususnya di Palestina,
Afghanistan, dan sebagainya, tidak ada yang mengaitkannya dengan agama
mereka. Bahkan mereka mengatakan itu adalah hak mereka dan demi
menyelamatkan masyarakat Muslim yang ada di sana. Akan tetapi, bila kaum Muslim berjihad melawan Agresi Yahudi atas
Palestina, atau Amerika di Afghanistan, mereka pasti akan
mengaitkannya dengan Islam dan menuduh kaum Muslim tersebut sebagai
Milisi pemberontak dan teroris.
“Barangsiapa yang menyerang kamu maka seranglah ia, sebanding dengan serangannya terhadapmu.” (Al-Baqarah: 194)
“Barangsiapa yang menyerang kamu maka seranglah ia, sebanding dengan serangannya terhadapmu.” (Al-Baqarah: 194)
= = = = = = =
Semua ini disebabkan karena kurangnya perhatian kaum muslimin
terhadap agamanya dan sunnah Rasul-Nya-shollallahu alaihi wasallam-.
Kurangnya perhatian mereka menuntut ilmu syar’i karena kesibukan duniawi
yang memalingkan mereka. Sementara mereka tak ada perhatian lagi dengan
majelis ilmu dan majelis ta’lim. Akibatnya, agama dan Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam terasa asing dan aneh di sisi mereka.
Fenomena berlombanya kaum muslimin memperbanyak harta benda dan
fasilitas duniawi sehingga membuat mereka lupa terhadap agamanya
merupakan sebab tersebarnya kejahilan. Jika semakin hari, semakin
tersebar kejahilan, maka ketahuilah bahwa ini adalah salah satu diantara
ciri dan tanda dekatnya hari kiamat.
Sumber artikel:
Langganan:
Postingan (Atom)

